Video Populer

Obat AIDS berhasil ditemukan, HIV pada binatang hidup bisa hilang total.

www.pexels.com Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan geja...

Kisah nyata, Colleen Stan 7 tahun disekap dan dijadikan budak sex oleh sepasang suami istri





Sebuah film berjudul Girl in the box yang diangkat dari kisah nyata yang tragis, kisah nyata seorang perempuan yang diculik dan disekap di dalam peti jenazah selama tujuh tahun.

Selama penyekapan itu, Colleen Stan, nama perempuan tersebut, hanya dikeluarkan dari peti untuk diperkosa dan disiksa sang penculik.

Colleen diculik pada 1977-1984 ketika dia baru berusia 20 tahun. Colleen yang kini berusia 51 tahun, baru saja pulang dari ulang tahun temannya di California.

Dia kemudian mencegat mobil untuk menumpang. Saat itu Cameron Hooker (23) bersama istrinya, Janice melintas dan menghentikan mobilnya untuk memberi tumpangan.

Beberapa menit setelah memberi tumpangan, Hooker kemudian menghentikan mobilnya dan mengancam Colleen dengan menggunakan pisau.

Hooker kemudian mengikat dan menyumbat mulut Colleen dan memaksanya masuk ke dalam sebuan peti kayu.

Hooker dan Janice menyekap Colleen selama 7 tahun dan menjadikannya budak sex
Hooker dan Janice


"Saya kira saya akan kehabisan napas," kata Colleen mengenang pengalaman buruknya itu.

Setibanya di rumah, Hooker menyeret Colleen ke ruang bawah tanah. Pria itu kemudian melucuti seluruh pakaian Colleen, mengikat pergelangan tangannya dan menggantung gadis itu kemudian mencambuki tubuhnya.

Selama beberapa bulan pertama, Colleen tak dikeluarkan dari ruang bawah tanah yang gelap itu. Dia tak diperbolehkan mandi, hanya disediakan pispot dan diberi makan seadanya sekali sehari.

"Saya terus disiksa. Disengat listrik, dibakar dengan lampu panas dan dia bahkan menarik tubuh saya dengan menggunakan rantai," tambah dia.

Tak hanya itu, Hooker kemudian memaksa Colleen menandatangani kontrak yang membuat dia menjadi properti milik pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang kayu itu.

Hooker mengubah nama Colleen menjadi K dan memakaikan kalung anjing dan menyatakan dia adalah anggota The Company, sebuah kelompok yang akan membunuh keluarga para budak yang mencoba kabur.

Hooker kemudian memindahkan keluarganya ke sebuah rumah mobil dan "menyimpan" Colleen dalam sebuah peti kayu di bawah ranjang yang digunakannya bersama sang istri, Janice.

Peti itu hanya berukuran dua meter kali satu meter dengan dua lubang udara dan sebuah pispot. Di dalam peti itu, Colleen hanya bisa menggerakkan kakinya.

Baca juga : Junko Firuta : Kisah penyanderaan gadis paling kejam sepanjang masa dari Jepang.

"Saya berbaring 22 jam setiap hari, dan hanya dikeluarkan untuk disiksa atau diperkosa," tambah dia.

Setelah dua tahun, Hooker akhirnya mengizinkan Colleen keluar peti lebih lama untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari.


Peti yang digunakan untuk menyekap Colleen Stan

"Saya harus berpura-pura bahwa dia (Hooker) adalah tunangan saya dan saya mencintai dia. Bahkan saya berpose dalam sebuah foto dan dia merangkul tubuh saya," kata dia.

"Saya ingin berteriak minta tolong tetapi saya takut The Company akan membunuh keluarga saya," lanjut dia.

Pada 1984, Hooker mulai terlibat pertengkaran dengan istrinya, Janice dan mulai menyiksa perempuan itu. Hooker bahkan mengatakan dia menginginkan dua budak seks lagi.

Janice yang ketakutan sekaligus merasa kasihan kepada Colleen akhirnya menawarkan bantuan kepada perempuan itu.

"Dia mengatakan bahwa kami harus kabur karena dia mengira Hooker akan membunuh kami berdua. Dia lalu mengatakan bahwa The Company adalah omong kosong belaka.

Saat itulah Colleen percaya dia sudah dicuci otak dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun Collen merasa bisa mengendalikan hidupnya kembali.

Kedua perempuan itu kabur pada 1984 dan Colleen pulang ke kediamannya. Pada awalnya, Colleen tak bisa menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada kedua orangtuanya.

Baca juga : Cinta Terlarang Membuat Gadis Ini Dikurung Orang tuanya Selama 25 Tahun

Namun, dua bulan kemudian, Janice melaporkan Hooker kepada polisi dan Colleen meminta orangtuanya mendengarkan keterangannya kepada polisi.

"Kisah saya membuat hati mereka hancur, tetapi setelah kebenaran terungkap saya bisa melanjutkan hidup," kata Colleen.


Colleen Stan

Hooker akhirnya diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara selama 135 tahun. Sementara Janice, karena membantu penegak hukum untuk menangkap Hooker, dibebaskan dari seluruh dakwaan.

Colleen sendiri akhirnya menikah dua kali dan memiliki seorang anak. Kini dia bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan.

Colleen juga menulis buku tentang pengalaman buruknya dan membantu para perempuan yang memiliki pengalaman buruk dalam hidup mereka





Baduy, antara keteguhan nilai Dan Modernisasi


Rumah, ladang, hutan, tenun, dan kesederhanaan hal yang terasa ditemui ketika berkunjung di desa Kanekes, Kecamatan Lui Damar, Kab. Lebak, Propinsi Banten. Kawasan dimana masyarakat Baduy luar tinggal.

Jika Anda ingin mengunjungi kawasan itu, bisa ditempuh menggunakan kereta jurusan Tanah Abang - Rangkas (tiket Rp 8.000, perjalanan 2 jam ). Dilanjutkan dengan angkutan umum dari kota Rangkas menuju desa, sekitar 2 jam (ongkos antara 25 ribu sampai 35 ribu per orang).  Maka sampailah Anda di desa Kanekes dengan total perjalanan sekitar 4 jam dari stasiun Tanah Abang, Jakarta.
Perjalanan dimulai dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung menggunakan Commuter Line


Jika Anda akan ke Baduy luar hanya membutuhkan jalan kaki 10 sampai 30 menit dari tempat perhentian bus terakhir, tetapi jika Anda ingin ke Baduy dalam, harus melakukan perjalanan kaki sekitar 15 KM dengan topografi jalan naik turun. Harus pastikan stamina jika ingin ke kawasan Baduy dalam.

Pada 17-18 Februari 2019, team Sri Kendes mengumpulkan cerita dalam bentuk tulisan, foto dan video dari kebudayaan masyarakat Baduy. Tujuannya kegiatan ini selain untuk "memburu" kain tenun Baduy, agar dapat mengenal lebih dekat masyarakat dar sebuah budaya, dimana kain dihasilkan.

Sehingga diharapkan, setiap pencinta dan pengguna kain-kain nusantara bukan hanya untuk mempercantik diri semata.  Tetapi dapat lebih mengenal makna, kesejarahan, budaya dan manusianya dari sebuah produk kain atau baju traditional. Sehingga dapat mengetahui bagaimana diproduksi maupun dimaknai selembar kain oleh sebuah masyarakat.

Baca juga : 4 Pulau paling berbahaya di Dunia

Program kami ini rencananya akan kami lakukan kontiyu di banyak wilayah Indonesia yang menghasilkan kain nusantara. Karena ini konsepnya memburu kain, sambil jalan-jalan belajar budaya nusantara, maka kami beri nama programnya;  "Srikendes Jali-Jali".

Pola hidup masyarakat Baduy berkelompok, mereka sangat memegang teguh nilai-nilai adat setempat. Ada banyak larangan yang tidak boleh dilakukan oleh mereka, seperti dilarang bersekolah bagi anak-anak mereka, dilarang menggunakan teknologi listrik atau teknologi lainnya (misalnya TV), dilarang menggunakan peralatan rumah berbahan plastik, dilarang membangun rumah dengan semen. Jika aturan itu dilanggar, maka akan diberikan sanksi oleh pemimpin adat, bahkan dikeluarkan dari komunitas adat.
Makan Siang bersama yang tak terlupakan

Kehidupan mereka memberi kesan dan pesan kuat tentang kesederhanaan dan rasa syukur pada alam yang telah memberikan kehidupan pada manusia. Masyarakat Baduy seperti memaknai hidup harus menyatu dengan alam. Apa yang alam sediakan, disitulah mereka hidup. Tak perlu berlebih apalagi sampai penuh kemewahan. Minimal kesan itu yang team Srikendes rasakan.

Walau, nilai-nilai terasa ada tarik menarik dengan masuknya perkembangan teknologi. Masyarakat Baduy sendiri, sepertinya menghadapi banyak tantangan karena harus berinteraksi dan tuntutan perkembangan jaman. Misalnya di tempat dimana kami tinggal, sebagian masyarakat menggunakan hand phone, penerangan lampu listrik untuk alasan kebutuhan.

Bahkan diantara mereka sudah ada yang memiliki account facebook ataupun Istagram untuk keperluan perluasan penjualan kerajinan Baduy. Walau menurut mereka harus sembunyi-sembunyi, tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa ada hal-hal penggunaan teknologi "dimaklumi" oleh masyarakat setempat.

Baca juga : Potret Djakarta Tempo Doeloe

Pengalaman Srikendes berinteraksi dengan mereka juga melalui komunikasi WA ataupun facebook. Misalnya account Baduy Ambu Nudin salah satu facebook yang digunakan masyarakat Baduy luar memasarkan kain tenun dan kerajinan mereka. Teman-teman jika ingin membeli langsung ataupun membantu pemasaran tenun Baduy, dapat menghubungi mereka melalui account facebooknya.


Sangat terlihat ketika akan memasuk kawasan masyarakat Baduy, keberadaan komunitas Baduy luar maupun Baduy dalam dengan "kekhasannya" menghasilkan manfaat/keuntungan besar bagi pihak luar yang bukan bagian dari masyarakat Baduy. Misalnya ada banyak toko-toko modern yang menjual kerajinan Baduy tetapi penjualnya bukan masyarakat Baduy. Bahkan ada Alfamart.
Butuh waktu 1 sampai 4 minggu untuk menyelesaikan selembar kain Baduy.

Menenun salah satu kegiatan yang khusus dilakukan oleh para perempuan Baduy. Bahkan sejak kecil bagi anak perempuan didorong untuk belajar menenun. Walau tidak semua perempuan Baduy mampu membuat kain tenun. Kain tenun selain dipakai untuk kebutuhan sendiri, sekarang umumnya dijual kepada pihak lain (turis). Jika Anda berkunjung, di masyarakat Baduy luar banyak di depan rumah menjual hasil kerajinan mereka, termasuk madu.

Semua Perempuan Baduy bisa menenun
Jika perempuan diperuntukan untuk menenun dan pekerjaan rumah lainnya, sedangkan anak laki-laki dididik untuk ke ladang. Atau mencari kebutuhan sehari-sehari ke ladang atau hutan, misalnya yang kami temui anak remaja laki-laki pergi mencari kayu bakar di hutan. Sedangkan anak perempuan belajar menenun. Walau yang kami temui, beberapa perempuan juga membawa kayu besar bersama suaminya untuk keperluan membangun rumah.

Masyarakat Baduy sendiri punya aturan ketat soal perkawinan, mereka hanya membolehkan perkawinan monogami. Tidak ada ruang bagi pelaku poligami. Jika sudah tidak cocok dalam perkawinan, maka berpisah, baru dibolehkan untuk menikah kembali. Sedangkan keyakinan yang dianut oleh masyarakat Baduy, mereka meyebutnya Sunda Wiwitan. Sebuah keyakinan yang dimasukan oleh pemerintah Indonesia sebagai bagian dari aliran kepercayaan.


Untuk menjaga nilai, budaya dan keyakinan mereka dipastikan tidak mudah buat mereka untuk tetap bertahan. Karena masyarakat Baduy luar makin banyak yang keluar dari komunitasnya karena beragam alasan, misalnya karena perkawinan atau hal lain. Menurut salah seorang dari mereka, belum pernah ada masyarakat luar menikah dengan masyarakat Baduy yang kemudian menetap menjadi bagian dari masyarakat Baduy.  Mungkin karena tidak ada orang luar mampu hidup dengan adat masyarakat Baduy. Yang banyak terjadi justru sebaliknya, ungkap salah satu masyarakat Baduy luar.

Gadis penenun ini baru berusia 8 tahun

Ada hal yang mengkuatirkan ketika kami temui, walau masyarakat Baduy luar dibolehkan untuk pergi ke Rumah Sakit tetapi masih banyak dari mereka tidak memikiki jaminan kesehatan (BPJS). Sehingga jika ada kasus persalinan yang mengharuskan mendapatkan layanan medis, mereka biasanya membayar sendiri.

Kakek ini sudah berusia 100 tahun lebih. Tetapi gigi2nya masih utuh, ,masih ngopi, masih merokok dan masih sehat.

Ini ironis, padahal baru-baru ini pemerintah Jokowi mengalokasi dana infrastruktur bagi masyarakat Baduy luar dan dalam, tetapi rencana itu ditolak oleh masyarakat Baduy alasan adat larangan pembangunan infrastruktur. Mungkin pemerintahkan dapat memikirkan bagaimana memindahkan sebagian alokasi dana tersebut untuk layanan BPJS bagi masyarakat Baduy luar. (Toyo/170217)

Artikel Asli : SriKendes jali-jali

Populer